|
Komponen
|
Keterangan
|
|
Nama Penyusun
|
Yudi Syahrial,
S.Kom
|
|
Satuan Pendidikan
|
SMP Negeri 139
Jakarta
|
|
Tahun Ajaran
|
2025/2026
|
|
Mata Pelajaran
|
Informatika
|
|
Jenjang/Kelas/Fase
|
SMP / IX / Fase D
|
|
Bab/Topik Spesifik
|
Bab 5: Jaringan
Komputer dan Internet (Modul Refleksi & Penguatan)
|
|
Alokasi Waktu
|
Tidak ada alokasi jam khusus. Materi
diintegrasikan secara kontekstual ke dalam bab lain (misal: TIK, DSI, PLB).
|
|
Kategori
|
Deskripsi
|
|
Pengetahuan Awal
|
Peserta didik
telah mengenal konsep dasar internet, jaringan lokal, konektivitas (Wi-Fi, tethering), dan enkripsi sederhana
dari pembelajaran di kelas VII dan VIII. Mereka adalah pengguna aktif
internet untuk komunikasi, hiburan, dan mencari informasi.
|
|
Minat
|
Peserta didik
sangat tertarik pada segala hal yang berkaitan dengan internet, media
sosial, dan komunikasi daring. Mereka ingin tahu cara menggunakan internet
secara aman dan efektif.
|
|
Kebutuhan Belajar
|
Peserta didik
tidak memerlukan teori teknis baru tentang JKI, tetapi sangat membutuhkan
penguatan kesadaran dan keterampilan praktis untuk menjadi warga digital
yang cerdas dan bertanggung jawab. Fokusnya adalah pada praktik baik (best practices) dalam
berinternet secara aman.
|
Materi pada bab ini
berfokus pada refleksi dan penguatan praktik baik, mencakup:
1.
Berinternet dengan
Aman: Mengidentifikasi situs web terpercaya, tidak sembarang
mengunduh atau menginstal aplikasi.
2.
Menghargai Privasi: Memahami
pentingnya privasi diri sendiri dan orang lain di dunia maya.
3.
Literasi Informasi
Kritis: Kemampuan untuk mengidentifikasi potensi berita bohong (hoax) dan tidak ikut menyebarkannya.
4.
Etika Digital: Menghindari
perundungan siber (cyberbullying), baik
sebagai pelaku maupun korban, dan berkomunikasi dengan santun.
|
D. DIMENSI PROFIL LULUSAN
|
|
Dimensi
|
Elemen yang Dikembangkan
|
|
Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, &
Berakhlak Mulia
|
Peserta didik
menerapkan etika dan akhlak yang baik dalam berkomunikasi di dunia maya,
menghargai orang lain, dan menggunakan internet untuk hal-hal yang positif.
|
|
Bernalar Kritis
|
Peserta didik
mampu mengevaluasi informasi yang ditemukan di internet, membedakan fakta
dan opini, serta mengidentifikasi potensi berita bohong sebelum
membagikannya.
|
|
Mandiri
|
Peserta didik
menunjukkan tanggung jawab dalam menjaga privasi dan keamanan data
pribadinya saat online.
|
|
Berkebinekaan Global
|
Peserta didik
berinteraksi dengan orang lain di dunia maya dengan kesadaran akan
keberagaman dan saling menghargai perbedaan.
|
|
Komponen
|
Deskripsi
|
|
Capaian Pembelajaran (CP) Fase D
|
(Penguatan) Pada
akhir Fase D, peserta didik mampu mengenal Internet dan jaringan lokal,
komunikasi data, konektivitas internet, dan memahami enkripsi untuk
memproteksi data, serta mampu melakukan koneksi perangkat ke jaringan.
|
|
Lintas Disiplin Ilmu
|
Pendidikan Pancasila: Norma dan etika
dalam berinteraksi di ruang publik (termasuk ruang digital). Bahasa Indonesia: Keterampilan
literasi kritis untuk menganalisis kebenaran sebuah berita. Bimbingan Konseling (BK): Tema
perundungan siber dan kesehatan mental di era digital.
|
|
Tujuan Pembelajaran Bab 5
|
1. Peserta didik
mampu merefleksikan kembali pengetahuan tentang jaringan komputer dan
internet. 2. Peserta didik mampu
menerapkan praktik-praktik baik untuk menjaga keamanan dan privasi saat
berinternet. 3. Peserta didik mampu
menunjukkan sikap kritis terhadap informasi di internet untuk menghindari hoax. 4. Peserta didik mampu menjelaskan etika
berkomunikasi di dunia maya untuk mencegah cyberbullying.
|
|
Praktik Pedagogis (Pendekatan Deep Learning)
|
Model Pembelajaran: Pembelajaran
Berbasis Kasus (Case-Based Learning). Metode:
Diskusi studi kasus, simulasi, dan pembiasaan. Pendekatan: • Meaningful Learning:
Pembelajaran menjadi sangat bermakna karena membahas isu-isu nyata dan
relevan yang dihadapi peserta didik setiap hari (privasi, hoax, cyberbullying). • Joyful
Learning: Diskusi kasus dikemas secara interaktif, seperti
memecahkan misteri ("Apakah berita ini asli atau palsu?") atau
bermain peran. • Mindful
Learning: Mendorong peserta didik untuk berhenti sejenak dan
berpikir secara sadar sebelum mengklik, membagikan, atau berkomentar
sesuatu di internet.
|
|
Pemanfaatan Digital
|
Koneksi internet
dan proyektor untuk menampilkan contoh kasus (misal: tangkapan layar berita
hoax, contoh komentar di media
sosial).
|
PENGALAMAN
BELAJAR (CONTOH INTEGRASI DALAM PEMBELAJARAN)
|
Modul ini tidak
memiliki jadwal pertemuan khusus. Berikut adalah contoh bagaimana materi
direfleksikan dan dikuatkan dalam kegiatan pembelajaran bab lain:
|
Konteks Pembelajaran (Bab Lain)
|
Aktivitas Refleksi & Penguatan
(Materi Bab 5)
|
|
Saat memulai kegiatan yang membutuhkan
pencarian informasi di internet (Bab 3 TIK)
|
Diskusi Pembukaan (10 menit): 1. Guru bertanya: "Saat kita mencari
informasi di Google, semua sumber yang muncul apakah pasti benar dan bisa
dipercaya? Bagaimana cara kita membedakannya?" 2. Guru menampilkan dua contoh berita
tentang topik yang sama: satu dari media terverifikasi, satu lagi dari blog
anonim yang provokatif. 3. Guru
memandu diskusi untuk mengidentifikasi ciri-ciri sumber terpercaya (penulis
jelas, ada data, bahasa netral) dan ciri-ciri hoax (judul heboh, menyudutkan, tidak ada sumber). 4. Guru menyimpulkan: "Ingat, selalu
saring sebelum sharing. Cek dulu kebenarannya."
|
|
Saat membahas pembuatan Blog atau media
sosial (Bab 3 TIK & Bab 8 DSI)
|
Studi Kasus Privasi (10 menit): 1. Guru mengajukan skenario:
"Seorang teman mem-posting foto liburanmu di media sosialnya tanpa
izin. Di foto itu, terlihat jelas nama sekolah dan lokasi rumahmu. Menurut
kalian, apa saja risiko dari postingan tersebut?" 2. Peserta didik berdiskusi dalam
kelompok kecil tentang risiko (keamanan fisik, penyalahgunaan foto). 3. Guru memandu diskusi kelas tentang
pentingnya menjaga privasi diri sendiri dan menghargai privasi orang lain
dengan selalu meminta izin sebelum mem-posting.
|
|
Terjadi insiden kecil di grup chat kelas
|
Momen Pembinaan Kontekstual: Jika ada kesalahpahaman atau penggunaan
bahasa yang kurang pantas di grup kelas, guru dapat menjadikannya momen
pembelajaran (tanpa menyudutkan individu).
"Anak-anak, mari kita ingat kembali etika berkomunikasi di
grup. Apakah kata-kata yang kita ketik bisa menyakiti perasaan orang lain?
Mari kita gunakan jempol kita untuk menyebarkan hal-hal yang baik dan
positif."
|
|
Jenis Asesmen
|
Teknik dan Instrumen
|
|
Asesmen Formatif (Proses)
|
Teknik: Observasi dan Analisis Diskusi. Instrumen:
Catatan Anekdotal. Guru
mengamati dan mencatat bagaimana peserta didik berargumen saat diskusi
studi kasus. Aspek yang diamati: •
Apakah peserta didik mampu memberikan alasan yang logis saat menilai sebuah
informasi? • Apakah peserta didik
menunjukkan pemahaman tentang konsep privasi dan etika digital? • Bagaimana sikap mereka saat menanggapi
pendapat teman yang berbeda?
|
|
Asesmen Sumatif
|
Tidak ada. Penilaian
berfokus pada perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran, yang diamati
secara berkelanjutan.
|
H. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
|
●
Pengayaan: Peserta didik
dapat ditugaskan dalam kelompok untuk membuat kampanye mini di lingkungan
sekolah tentang satu topik spesifik (misal: "Cara Cerdas Mengenali
Hoax" atau "Stop Cyberbullying"). Kampanye bisa dalam bentuk
poster, mading, atau presentasi singkat di kelas lain.
●
Remedial: Bagi peserta didik
yang masih kesulitan membedakan informasi terpercaya, guru dapat memberikan
daftar periksa (checklist)
sederhana: "Apakah ada nama penulisnya? Apakah sumbernya media resmi?
Apakah beritanya ada di tempat lain?". Latihan dilakukan dengan
bimbingan langsung dari guru.
I. REFLEKSI DIRI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK
|
Untuk Peserta Didik (dapat menjadi bahan
diskusi atau tulisan singkat):
1.
Kebiasaan berinternet apa yang berubah pada
dirimu setelah diskusi kita di kelas?
2.
Pernahkah kamu hampir percaya atau
menyebarkan berita hoax? Apa yang
membuatmu sadar?
3.
Menurutmu, apa satu aturan paling penting
yang harus disepakati bersama agar grup chat kelas kita menjadi tempat yang
nyaman dan positif?
Untuk Pendidik:
1.
Sejauh mana peserta didik menunjukkan
peningkatan kesadaran dan sikap kritis dalam berinternet?
2.
Studi kasus atau contoh nyata seperti apa
yang paling efektif untuk memicu diskusi dan refleksi dari peserta didik?
3.
Bagaimana saya bisa menciptakan lingkungan
kelas yang aman dan terbuka sehingga peserta didik berani berbagi pengalaman
mereka (misal: pernah menjadi korban cyberbullying)
tanpa rasa takut dihakimi?
|
0 $type={blogger}:
Post a Comment